Aroma dan Bayang yang Tersisa

 Aroma dan Bayang yang Tersisa

Nurfilla Oktaviyanti



dibalik tirai waktu yang digulung senja

ada harum yang tak lagi berdiam pada pawon usang 

tak lagi mengepul hanya terselip dinding sunyi

bersama gelas dan piring yang setia berbaris rapi


sendok-sendok tak lagi berani bergemirincing 

diselimuti abu pada aroma bawang yang tak lagi 

menghunus hidung dan didihan air yang bergumam

kini hanya terasa pada ingatan yang lapar


suatu waktu aku pulang

bukan karena libur panjang perkuliahan

tapi karena mimpi yang kau selipkan

pada harum bihun goreng yang tak dapat sama kutemui


aku singgah ke pusaramu

tanpa bunga, hanya dengan mulut kaku

yang tak mampu menuturkan kehilangan

hanya diam yang kupeluk erat

seperti kain lap meja makan yang dulu kau cuci 


kau tak pernah bernar-benar pergi

kau tinggal dalam rasa yang tak bisa kutuliskan

pada aroma masakan yang tak ada yang bisa meniru

dan pada dinding yang setia menampilkan cantikmu 

dalam sebuah figura besar di ruang tamu


ibu, ku menanti wangi tanganmu lagi 

dalam setiap hembus napas rindu dan mimpi tidurku


Situbondo, 8 Juni 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Drama Dayang Sumbi

Wangsa

Cerpen - Jual DIri