Kita Terlalu Nyaman Dibelenggu

 Kita Terlalu Nyaman Dibelenggu

Wilda Indana Lazulfa


    Di dunia ini, mungkin hampir seluruh masyarakatnya akan menjawab tidak suka jika ditanya ‘Apakah suka dibelenggu?’. Seharusnya, manusia tidak akan mau jika harus dikurung di suatu tempat dengan waktu tertentu karena pada dasarnya manusia membutuhkan kebebasan dan melakukan apapun yang disenangi. Situasi seperti terkurung atau terbelenggu dapat menimbulkna perasaan bosan dan cemas hingga berakibat pada gangguan kesehatan mental. Tapi nyatanya, tidak sedikit orang yang malah merasa nyaman dengan belenggu yang membatasi kebebasan mereka.
    Belenggu yang saya maksud dalam tulisan ini bukan semacam tali atau borgol. Terkurung yang dimaksud juga bukan penjara atau ruangan. Kali ini saya membahas tentang fikiran manusia yang menolak kebebasan bahkan untuk seumur hidup. Ya! Banyak orang yang dengan suka rela membelenggu fikirannya sendiri bahkan dengan jangka waktu seumur hidup!

Sebagai manusia yang memiliki akal, kita bebas melakukan kegiatan apapun selama sesuai dengan norma yang berlaku. Kita memiliki banyak kebebasan dalam belajar, bertindak, hingga berkarya. Dalam hal ini, aku beranggapan bahwa menciptakan karya adalah salah satu media kebebasan yang paling bebas. Dalam karya kita bisa mengatakan apapun, berpendapat apapun, hingga mengkritik apapun. Berkarya, khususnya di bidang seni, dapat menjadi media ekspresi diri dan kritik atau rekaman sosial.

Pada kenyataanya, banyak orang yang menolak untuk merasakan kebebasan berkarya. Tidak sedikit mahasiswa yang memilih untuk tidak berkarya karena hal-hal yang menjadi belenggu di fikiran mereka. Aku beberapa kali bertanya pada teman-temanku tentang berkarya dan jawaban mereka nyaris semuanya sama. Mereka mengatakan bahwa terdapat perasaan takut yang kemudian menjadi batu penghalang bagi langkah mereka. Ada yang takut terlalu frontal dalam mengekspresikan diri, takut jelek, takut dicemooh, dan lain sebagainya. Tanpa disadari, fikiran-fikiran itu menjadi belenggu sampai akhirnya mereka, mungkin aku juga-atau bahkan kita semua- menjadi terlalu nyaman untuk selalu tidak berkarya.


“Aduh, takut banget nanti dibaca orang-orang. Tulisanku kan masih jelek. Besok aja deh bikin karya kalo udah bisa nulis bagus.”

“Ideku kayaknya masih kurang. Kapan-kapan aja deh berkaryanya.”

“Aku masih baru mulai main teater. Jangan aku dulu yang jadi aktornya.” 

“Gimana kalo nanti malah gagal?”

“Capek banget hari ini. Ga usah bikin karya dulu deh.”

“Nanti kalau karyaku diketawain gimana?”


Fikiran-fikiran itu tanpa sadar menjadi penghalang untuk kita terus berkarya. Dimulai dengan rasa takut, cemas, kemudian kita akan merasa nyaman dengan belenggu fikiran itu, lalu mungkin selamanya akan menjadi bercumbu dengan keadaan tanpa karya. Padahal apa salahnya dengan berkarya, terlepas dari ada atau tidaknya karya yang lebih bagus? Apa salahnya mulai berjalan dalam ketidakyakinan sampai kita temukan sendiri dimana letak keyakinan untuk tetap berkarya? Mengapa kita tidak pernah yakin dengan diri sendiri?

Berkarya adalah kebebasan yang telalu sering kita belenggu. Mungkin, orang yang paling tidak kita percayai adalah diri sendiri. Orang yang paling sering kita remehkan adalah diri sendiri. Hal yang paling sering kita batasi adalah jiwa diri sendiri. Bahkan mungkin, tulisan ini juga lahir dari banyak keraguan, kecemasan, serta perang fikiran. Tidak perlu menjadi bagus dulu. Tidak perlu menjadi jagoan dulu. Mulai saja dengan melawan ketakutan, kecemasan, dan segala kemungkinan yang selalu difikirkan, maka dengan begitu kita telah mencapai satu kebebasan: bebas dari rasa takut. . Mulailah dengan berkarya, dari ekspresi diri sendiri, sampai hal-hal yang meresahkan. Berikan ruang kebebasan untuk diri sendiri dengan berkarya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Drama Dayang Sumbi

Wangsa

Cerpen - Jual DIri