Resensi Novel Finding Audrey
Resensi Novel Finding Audrey
Triandika
Kirani
Judul : Aku, Audrey (Finding Audrey)
Karya : Sophie Kinsella
Alih Bahasa : Angelic Zaizai
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman : ± 360 Halaman
Novel
Finding Audrey menceritakan mengenai kecemasan yang dirasakan Audrey dengan
dunia luar, terutama dengan penilaian dari orang lain terhadap dirinya. Hal ini
tentu mengganggu, bahkan dijelaskan kalau Audrey menutup diri dari dunia luar
dan memilih untuk selalu di rumah. Terisolasi dan terpenjara dengan segala
pemikiran otak kadalnya yang menakutkan. Semua disebabkan dari perundungan
yang didapatkan Audrey semasa sekolah dan Dr. Sarah sebagai psikolog membantu
menanganinya. Konsultasi yang dijalani dan dukungan keluarga bahkan orang
terdekat secara bertahap membantu Audrey untuk sembuh.
Novel ini sangat menginspirasi untuk keluar dari zona nyaman dan mulai berhubungan dengan dunia luar yang menakjubkan. Isinya yang menghadirkan cerita keluarga dan mungkin sebagian besar orang mengalaminya, yaitu adanya sosok ibu yang sangat peduli dan ingin menjauhkan pengaruh buruk dari anaknya dikemas dengan lucu, penuh drama, bahkan sedikit kacau.
Ketika
membaca novel ini hingga selesai, hal yang paling melekat adalah jangan
membiarkan otak kadal mengatur kehidupan kita. Misal, ketika takut untuk keluar
bertemu teman dan otak kadal membisikkan sesuatu yang menakutkan seperti
(bagaimana jika mereka……apa mereka akan…..dan banyak lagi), hal ini akan
menimbulkan kecemasan tak berdasar, bahkan hal-hal yang membuat cemas itu belum
terjadi atau tidak pernah terjadi. Jadi, cukup lakukan sesuatu yang diinginkan,
berpikir positif, dan jalani. Maka kecemasan itu tidak akan muncul, justru
keberanian yang akan dirasakan. Ini juga terjadi ketika memikirkan pemikiran
orang lain terhadap kita yang sama sekali tidak bisa melihat bahkan mendengar
pemikiran mereka.
Kekurangan
dari novel Finding Audrey terletak pada bagian awal cerita yang terasa cukup
lambat dan cenderung membosankan. Alur cerita di awal lebih banyak berpusat
pada Frank, kakak Audrey, sehingga perkembangan konflik utama Audrey terasa
tertunda. Porsi cerita tentang Frank cukup dominan, mulai dari kebiasaannya
bermain game hingga larut malam, obsesinya terhadap komputer, sampai konflik
yang terus-menerus terjadi antara Frank dan ibu mereka. Hal ini membuat fokus
cerita sedikit bergeser dan membutuhkan kesabaran lebih bagi pembaca di awal
untuk benar-benar masuk ke inti permasalahan Audrey.
Namun,
seiring cerita berjalan, novel ini justru menjadi semakin menarik dan penuh
tanda tanya. Setiap karakternya sangat hidup dan realistis. Penggambaran
kecemasan sosial yang dialami Audrey disajikan dengan akurat dan menyentuh,
terutama melalui konsep “otak kadal” yang mudah dipahami pembaca. Proses
pemulihan Audrey yang dibantu oleh psikolog, dukungan keluarga, serta
orang-orang terdekat digambarkan secara bertahap. Novel ini juga memberikan
pesan kuat tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan tidak
membiarkan ketakutan mengendalikan hidup. Secara keseluruhan, Finding Audrey
layak mendapatkan penilaian 8/10 karena ceritanya relevan, emosional, dan memberikan
pemahaman yang baik mengenai kecemasan sosial serta cara menghadapinya.

Komentar
Posting Komentar