Senjakala
Senjakala
Nurfilla Oktaviyanti
pernah ada sebuah ruang yang memeluk tanpa syarat
menjadi rahim bagi segala yang ingin lahir:
pada lagu dan gending yang belum punya kata
pada gerak yang mencari tubuh
pada segala hal yang ingin tumbuh
di situlah waktu kita duduk bersama
menautkan warna dunia pada ubun-ubun,
mengajari seni yang bukan hanya sekedar pentas
melainkan degup pelan yang tak pernah selesai
menjadi rumah dari segala yang ringkih:
paku berkarat, tirai sobek, cat mengelupas,
bohlam penerang, dan sound keras terdengar
sekarang hanya menjadi kenangan keabadian
lenyap tapi bukan dari tubuh kita
pondasi yang sama tapi tak lagi bersama
hilang di ingatan yang paling sempit
yang diam-diam tetap menetap di denyut nadi
dan kini,
dalam gelap yang tak memilih siapa pun
kita hanya bisa meraba sunyi itu
mencari kita yang pernah utuh
namun tinggal serpih yang terus jatuh tanpa suara.
Komentar
Posting Komentar